Sabtu, 28 April 2012

. PERADABAN AWAL MASYARAKAT DI DUNIA YANG BERPENGARUH TERHADAP PERADABAN INDONESIA

  • 1. PERADABAN AWAL MASYARAKAT DI DUNIA YANG BERPENGARUH TERHADAP PERADABAN INDONESIA 
  •  
  • A. Proses Migrasi Ras Proto Melayu dan Deutro Melayu ke Kawasan Asia Teggara dan Indonesia Menurut pendapat para ahli, pada periode 40.000 tahun yang lalu jenis manusia purbaMeganthropus, Pithecanthropus dan jenis Homo telah mengalami kepunahan. Penghunikepulauan Indonesia kemudian bergeser ke manusia-manusia migran yang datang dari berbagaiwilayah di Asia dan Australia. Proses migrasi awal menunjukkan bahwa populasi-populasikepulauan Indonesia berasal dari bangsa Australo-Melanesia (Australoid) dan Mongoloid (ataulebih khusus lagi adalah Mongoloid Selatan). Setelah itu datang lagi gelombang migrasi keduayaitu bangsa Austronesia (Melayu/Proto Melayu/Melayu Tua) yang berasal dari Yunan (wilayahdi propinsi Cina bagian Selatan). Migrasi mereka sendiri ke kepulauan Indonesia berlangsungdalam dua gelombang. Periode gelombang pertama terjadi pada sekitar tahun 1500 SM, melalui dua jalur utama.Jalur pertama dari Yunan melewati Siam, Malaya dan Sumatera (jalur Barat dan Selatan). Jalurkedua dari Yunan, Vietnam, Filipina kemudian masuk ke Indonesia melalui wilayah Sulawesi(jalur Timur dan Utara). Dalam proses persebarannya mereka membawa kebudayaanneolitikum dari pusatnya di Basson-Hoabinh, yang diantaranya adalah kapak persegi dan kapaklonjong. Suku bangsa Indonesia sekarang yang termasuk keturunan bangsa Melayu Tua atauProto Melayu misalnya suku Toraja dan Dayak.Migrasi periode kedua dari bangsa Malayu (Deutro Melayu/Melayu Muda) terjadi pada sekitartahun 500 SM. Proses persebarannya melalui jalur daratan Asia kemudian Semenanjung Malayadan masuk ke Indonesia melalui Sumatera. Kedatangan bangsa ini sambil membawa pengaruhbudaya logam dari Dongson, seperti nekara, moko, dan kapak perunggu. Suku bangsa Indonesiasekarang yang termasuk keturunan bangsa Melayu Muda atau Deutero Melayu misalnya sukuJawa, Melayu, dan Bugis. B. Budaya Hoa-Bihn / Bacson, dan Dongson Terhadap Perkembangan Budaya Masyarakat Awal Kepulauan Indonesia Letak Indonesia yang strategis, berada di antara 2 benua, Australia dan Asia, telah menjadi titik pertemuan dariberbagai bangsa. Ada yang datang dari Indocina dan menyebar ke Indonesia bagian barat, dan ada pula yang dating melaluikepulauan Philipina menyebar ke Indonesia bagian timur. Sebagian bangsa-bangsa ini kemudian menyebar ke berbagaipulau di Lautan Pasifik dan Australia. Pertemuan bangsa-bangsa ini mengakibatkan terjadinya percampuran kebudayaanyangdibawa daridaerahasalnyadengan kebudayaanasli BangsaIndonesia.
  • 2. 1. Pengaruh Budaya Hoa-Bihn Terhadap Perkembangan Budaya Masyarakat Awal Kepulauan Indonesia Budaya Hoabihn merupakan diantara budaya besar yang memiliki situs-situs temuan diseluruh daratan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Budaya Hoabihn ini berkembang di AsiaTenggara dalam kurun waktu antara 18.000 hingga 3.000-an tahun yang lalu. Istilah “Hoabihn”sendiri mulai dipakai sejak tahun 1920-an untuk menyebut pada suatu industri alat batu yangberasal dari jenis batu kerakal dengan ciri khas berupa pangkasan pada satu atau dua sisipermukaannya. Manusia pemilik budaya Hoabihn diperkirakan hidup pada kala Holosen. PendahuluHoabinhian awalnya berada di Vietnam bagian Utara, Thailand bagian Selatan dan Malaysia.Pengaruh utama budaya Hoabihn terhadap perkembangan budaya masyarakat awal kepulauanIndonesia adalah berkaitan dengan tradisi pembuatan alat terbuat dari batu. Beberapa ciripokok budaya Hoabihn ini antara lain:• Pembuatan alat kelengkapan hidup manusia yang terbuat dari batu• Batu yang dipakai untuk alat umumnya berasal dari batu kerakal sungai.• Alat batu ini telah dikerjakan dengan teknik penyerpihan menyeluruh pada satu atau dua sisibatu.• Hasil penyerpihan menunjukkan adanya keragaman bentuk. Ada yang berbentuk lonjong,segi empat, segi tiga dan beberapa diantaranya ada yang berbentuk berpinggang. Pengaruh budaya Hoabihn di Kepulauan Indonesia sebagian besar terdapat di daerahSumatra. Hal ini lebih dikarenakan letaknya yang lebih dekat dengan tempat asal budaya ini.Situs-situs Hoabihn di Sumatra secara khusus banyak ditemukan di daerah pedalaman pantaiTimur Laut Sumatra, tepatnya sekitar 130 km antara Lhokseumawe dan Medan. Sebagian besaralat batu yang ditemukan adalah alat batu kerakal yang diserpih pada satu sisi dengan bentuklonjong atau bulat telur. Dibandingkan dengan budaya Hoabihn yang sesungguhnya,pembuatan alat batu yang ditemukan di Sumatra ini dibuat dengan teknologi lebih sederhana.Kebanyakan alat-alat batu tersebut ditemukan diantara atau terdapat dalam bukit sampahkerang.Ditinjau dari segi perekonomiannya, pendukung budaya Hoabihn lebih menekankan padaaktivitas perburuan dan mengumpulkan makanan di daerah sekitar pantai dan daerahpedalaman.
  • 3. 2. Pengaruh Budaya Dongson Terhadap Perkembangan Budaya Masyarakat di Indonesia Pengaruh kuat budaya Dongson terhadap perkembangan budaya masyarakat awalkepulauan Indonesia adalah dalam hal pembuatan barang dari logam, terutama adalahperunggu. Tradisi pembuatan barang budaya dari perunggu di Vietnam (bagian Utara) sendiridimulai pada sekitar pertengahan milenium kedua sebelum masehi. Tradisi perunggu itu sendirimenurut para arkeolog Vietnam berasal dari budaya masyarakat Dong Dau dan Go Mun.Bersama dengan wilayah Muangthai (bagian tengah dan Timur Laut) kawasan ini memiliki buktipaling awal tentang tradisi pembuatan perunggu di Asia Tenggara. Jenis-jenis barang perunggu yang mereka hasilkan antara lain kapak corong (corongmerupakan pangkal yang berongga untuk memasukkan tangkai atau pegangannya), ujungtombak, sabit, mata panah, dan benda-benda kecil lainnya seperti pisau, kail dan aneka bentukgelang. Pada tahun sekitar 300 SM, mulai muncul tradisi pembuatan nekara perunggu,penguburan orang yang memiliki status sosial tinggi, dan kehadiran benda-benda besi untukyang pertama kalinya. Tradisi-tradisi Dongson inilah yang berpengaruh besar terhadapperkembangan kebudayaan masyarakat awal kelupauan Indonesia secara umum.Banyak sekali daerah-daerah di kepulauan Indonesia darinya ditemukan benda-benada budayayang memiliki kesamaan corak dengan benda-benda atau barang tradisi Dongson. Contohnyaadalah nekara Heger tipe I. Paling tidak ada sekitar 56 nekara atau bagian-bagian dari nekarayang tersebar di pulau Jawa, Sumatra dan Maluku Selatan. Diantara contoh nekara yangpenting dari Indonesia adalah nekara “Makalamau” dari pulau Sangeang, dekat Sumbawa.Nekara “Makalamau” memiliki hiasan berupa gambar orang yang berpakaian seragammenyerupai pakaian jaman dinasti Han di Cina atau Kushan (India Utara) atau Satavahana (IndiaTengah). Nekara dari Kepulauan Kai berhiaskan gambar kijang dan adegan perburuan macan.Nekara dari pulau Selayar bergambar gajah dan burung merak. Nekara dari Bali mempunyaigambaran bentuk yang berbeda. Nekara dari Bali memiliki empat patung katak pada bagianbidang pukulnya, dengan pola-pola hiasan yang tidak terpadu berupa gambar prajurit dan motifperahu. Semua itu menunjukkan kesamaan dengan nekara-nekara yang ditemukan di Vietnam,di wilayah, dimana budaya Dongson berkembang. Tentang cara pembuatan jenis nekara itu, sejarawan Bernet Kempers memberigambaran tentang penggunaan teknik cetaknya. Awalnya lembaran lilin ditempelkan pada intitanah liat (menerupai bentuk nekara dan berfungsi sebagai cetakan bagian dalam), lalu dihiasdengan cap-cap dari tanah liat atau batu yang berhias perahu, orang dan lainna. Kemudianlembaran lilin berhias tadi ditutup dengan tanah liat yang berfungsi sebagai cetakan bagian luarsetelah terlebih dulu diberi paku-paku yang berfungsi untuk menyatukan cetakan luar dan
  • 4. dalam. Setelah itu dibakar sehingga lilinya meleleh keluar. Rongga yang ditinggalkan oleh lilinkemudian diisi dengan cairan logam. Bernet Kempers menyebutnya sebagai teknik cetak cireperdue (lilin hilang).Disamping dibawa sendiri oleh orang-orang Dongson, banyak barang-barang logam dari tradisiDongson itu yang dikirim ke Indonesia sebagai barang hadiah yang diberikan pada penguasasetempat sebagai lambang martabat raja dan kekuasaannya oleh para penguasa politik danagama di Vietnam. Akibat terjadinya pengenalan benda dan teknologi perunggu dari Dongson(Vietnam) ke wilayah kepulauan Indonesia menyebabkan di beberapa daerah kemudian munculpusat-pusat pembuatan logam.C. Budaya Logam di Indonesia1. Situs-situs Peninggalan Budaya Perunggu di IndonesiaSitus-situs peninggalan budaya perunggu di Indonesia, tersebar hampir di seluruh wilayahIndonesia. Di Sumatra bagian Selatan (daerah Bangkinang dan Kerinci) ditemukan benda-bendaperunggu berupa aneka patung dalam ukuran kecil, cincin dan gelang-gelang. Gelang-gelangtersebut kebanyakan ditemukan dalam kubur peti batu atau sarkofagus sebagai bekal kubur.Selain di Sumatra situs-situs ditemukannya peninggalan budaya perunggu di Indonesia antaralain terdapat di:• Jawa Timur (daerah Lumajang) berupa nekara tipe Heger I, pisau belati atau pisau pendekdengan mata pisau dari besi dan pegangan dari perunggu.• Jawa Tengah (daerah Gunung Kidul, dekat Wonosari) berupa kapak, pahatan, pisaubertangkai, cincin perunggu, dan manik-manik.Sama seperti penemuan di Sumatra, semua temuan benda perunggu di Jawa ditemukan di dlamkubur peti batu atau sarkofagus dan berfungsi sebagai bekal kubur bagi yang meninggal.• Jawa Barat, berupa kapak corong, cincin, mata tombak, kapak-kapak yang berkaitan denganbenda upacara (candrasa)• Sulawesi Selatan (Makasar) berupa bejana perunggu berbentuk pipih.• Bali (daerah Pacung dekat Sembiran) berupa nekara Pejeng• NTT berupa nekara bertipe Heger IDi Indonesia, diantara benda-benda perunggu yang paling menarik perhatian adalah nekara.Nekara adalah benda yang terbuat dari perunggu dengan bentuk seperti gendang (alat musiktabuh tradisional Jawa). Terdiri dari tiga bagian, yaitu bagian atas yang yang terdiri dari bidangpukul datar, bagian tengah yang berbentuk silinder dan bagian bawah atau bagian kaki yangmelebar. Sebuah nekara biasanya dihiasi dengan berbagai ornamentasi dengan pola sepertigeometrik, gambar-gambar manusia dan binatang dan berbagai ornamentasi lainnya. Dan
  • 5. diantara jenis nekara yang ditemukan, tipe Heger dan Pejeng adalah yang paling terkenal.Terdapat juga jenis nekara yang ukurannya lebih kecil, yang disebut dengan Moko atau Mako.2. Teknik Pembuatan Berbagai Benda Peninggalan Perunggu di IndonesiaPada periode tradisi pengecoran logam, besi dan perunggu kemungkinan besar dikenal dalamwaktu yang bersamaan. Pada periode ini manusia telah mampu membuat alat-alat penunjangkehidupan mereka dari perunggu. Daerah asal kebudayaan ini adalah di Indo-Cina. Masuk keIndonesia pada sekitar tahun 500 SM. Di Indonesia, benda-benda hasil peninggalan zamanperunggu diantaranya adalah nekara, jenis kapak, bejana, senjata, arca dan perhiasan. Situs-situs ditemukannya peninggalan perunggu meliputi Jawa, Bali, Selayar, Luang, Roti dan Leti.Ada dua teknik pembuatan barang-barang dari perunggu. Teknik pertama adalah yang dikenaldengan teknik setangkup atau bivalve, dan teknik kedua adalah teknik cetakan lilin (a cireperdue).Pertama, teknik bivalveTeknik cetakan ini menggunakan dua cetakan dengan bentuk sesuai benda yang diinginkanyang dapat ditangkupkan. Cetakan diberi lubang pada bagian atasnya dan dari lubang tersebutkemudian dituangkan cairan logam. Bila sudah dingin, cetakan baru dibuka.Kedua, teknik cetakan lilinTeknik cetakan lilin menggunakan bentuk bendanya yang terlebih dahulu dibuat dari lilin yangberisis tanah liat sebagai intinya. Bentuk lilin dihias menurut keperluan dengan berbagai polahias. Bentuk lilin yang sudah lengkap kemudian dibungkus dengan tanah liat. Pada bagian atasdan bawah diberi lubang. Dari lubang bagian atas kemudian dituangkan cairan perunggu dandari lubang di bawahmengalir lelehan lilin. Bila cairan perunggu yang dituang sudah dingin, cetakan dipecah untukmengambil bendanya yang sudah jadi. Cetakan seperti ini hanya dapat digunakan sekali saja.Disamping tradisi pembuatan alat-alat perunggu manusia pada periode ini sudah mampumelebur bijih-bijih besi dalam bentuk alat-alat yang sesuai dengan keinginan dan kegunaannya.Benda-benda besi yang banyak ditemukan di Indonesia antara lain berupa mata kapak,berbagai jenis pisau dalam berbagai ukuran, mata sabit yang berbentuk melingkar, tajak, matatombak, gelang-gelang besi dan sebagainya. Disamping perunggu dan besi, emas juga telahdimanfaatkan utamanya untuk membuat perhiasan dan benda-benda persembahan kubur.3. Situs-situs Peninggalan Budaya Besi di IndonesiaBerbeda dengan benda perunggu, penemuan benda besi di Indonesia sangat terbatasjumlahnya. Kebanyakan benda-benda besi ini ditemukan dalam kubur batu atau kubur langsungsebagai benda bekal kubur. Diantara situs-situs ditemukannya benda-benda besi ini antara lainadalah di Wonosari (tepatnya dalam peti kubur batu di daerah Gunung Kidul, Jawa Tengah),Besuki, Tuban, Madiun dan Pacitan (semuanya ada di Jawa Timur)



  •  A. Proses Migrasi Ras Proto Melayu dan Deutro Melayu ke Kawasan Asia Teggara dan Indonesia Menurut pendapat para ahli, pada periode 40.000 tahun yang lalu jenis manusia purbaMeganthropus, Pithecanthropus dan jenis Homo telah mengalami kepunahan. Penghunikepulauan Indonesia kemudian bergeser ke manusia-manusia migran yang datang dari berbagaiwilayah di Asia dan Australia. Proses migrasi awal menunjukkan bahwa populasi-populasikepulauan Indonesia berasal dari bangsa Australo-Melanesia (Australoid) dan Mongoloid (ataulebih khusus lagi adalah Mongoloid Selatan). Setelah itu datang lagi gelombang migrasi keduayaitu bangsa Austronesia (Melayu/Proto Melayu/Melayu Tua) yang berasal dari Yunan (wilayahdi propinsi Cina bagian Selatan). Migrasi mereka sendiri ke kepulauan Indonesia berlangsungdalam dua gelombang. Periode gelombang pertama terjadi pada sekitar tahun 1500 SM, melalui dua jalur utama.Jalur pertama dari Yunan melewati Siam, Malaya dan Sumatera (jalur Barat dan Selatan). Jalurkedua dari Yunan, Vietnam, Filipina kemudian masuk ke Indonesia melalui wilayah Sulawesi(jalur Timur dan Utara). Dalam proses persebarannya mereka membawa kebudayaanneolitikum dari pusatnya di Basson-Hoabinh, yang diantaranya adalah kapak persegi dan kapaklonjong. Suku bangsa Indonesia sekarang yang termasuk keturunan bangsa Melayu Tua atauProto Melayu misalnya suku Toraja dan Dayak.Migrasi periode kedua dari bangsa Malayu (Deutro Melayu/Melayu Muda) terjadi pada sekitartahun 500 SM. Proses persebarannya melalui jalur daratan Asia kemudian Semenanjung Malayadan masuk ke Indonesia melalui Sumatera. Kedatangan bangsa ini sambil membawa pengaruhbudaya logam dari Dongson, seperti nekara, moko, dan kapak perunggu. Suku bangsa Indonesiasekarang yang termasuk keturunan bangsa Melayu Muda atau Deutero Melayu misalnya sukuJawa, Melayu, dan Bugis. B. Budaya Hoa-Bihn / Bacson, dan Dongson Terhadap Perkembangan Budaya Masyarakat Awal Kepulauan Indonesia Letak Indonesia yang strategis, berada di antara 2 benua, Australia dan Asia, telah menjadi titik pertemuan dariberbagai bangsa. Ada yang datang dari Indocina dan menyebar ke Indonesia bagian barat, dan ada pula yang dating melaluikepulauan Philipina menyebar ke Indonesia bagian timur. Sebagian bangsa-bangsa ini kemudian menyebar ke berbagaipulau di Lautan Pasifik dan Australia. Pertemuan bangsa-bangsa ini mengakibatkan terjadinya percampuran kebudayaanyangdibawa daridaerahasalnyadengan kebudayaanasli BangsaIndonesia.
  • 2. 1. Pengaruh Budaya Hoa-Bihn Terhadap Perkembangan Budaya Masyarakat Awal Kepulauan Indonesia Budaya Hoabihn merupakan diantara budaya besar yang memiliki situs-situs temuan diseluruh daratan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Budaya Hoabihn ini berkembang di AsiaTenggara dalam kurun waktu antara 18.000 hingga 3.000-an tahun yang lalu. Istilah “Hoabihn”sendiri mulai dipakai sejak tahun 1920-an untuk menyebut pada suatu industri alat batu yangberasal dari jenis batu kerakal dengan ciri khas berupa pangkasan pada satu atau dua sisipermukaannya. Manusia pemilik budaya Hoabihn diperkirakan hidup pada kala Holosen. PendahuluHoabinhian awalnya berada di Vietnam bagian Utara, Thailand bagian Selatan dan Malaysia.Pengaruh utama budaya Hoabihn terhadap perkembangan budaya masyarakat awal kepulauanIndonesia adalah berkaitan dengan tradisi pembuatan alat terbuat dari batu. Beberapa ciripokok budaya Hoabihn ini antara lain:• Pembuatan alat kelengkapan hidup manusia yang terbuat dari batu• Batu yang dipakai untuk alat umumnya berasal dari batu kerakal sungai.• Alat batu ini telah dikerjakan dengan teknik penyerpihan menyeluruh pada satu atau dua sisibatu.• Hasil penyerpihan menunjukkan adanya keragaman bentuk. Ada yang berbentuk lonjong,segi empat, segi tiga dan beberapa diantaranya ada yang berbentuk berpinggang. Pengaruh budaya Hoabihn di Kepulauan Indonesia sebagian besar terdapat di daerahSumatra. Hal ini lebih dikarenakan letaknya yang lebih dekat dengan tempat asal budaya ini.Situs-situs Hoabihn di Sumatra secara khusus banyak ditemukan di daerah pedalaman pantaiTimur Laut Sumatra, tepatnya sekitar 130 km antara Lhokseumawe dan Medan. Sebagian besaralat batu yang ditemukan adalah alat batu kerakal yang diserpih pada satu sisi dengan bentuklonjong atau bulat telur. Dibandingkan dengan budaya Hoabihn yang sesungguhnya,pembuatan alat batu yang ditemukan di Sumatra ini dibuat dengan teknologi lebih sederhana.Kebanyakan alat-alat batu tersebut ditemukan diantara atau terdapat dalam bukit sampahkerang.Ditinjau dari segi perekonomiannya, pendukung budaya Hoabihn lebih menekankan padaaktivitas perburuan dan mengumpulkan makanan di daerah sekitar pantai dan daerahpedalaman.
  • 3. 2. Pengaruh Budaya Dongson Terhadap Perkembangan Budaya Masyarakat di Indonesia Pengaruh kuat budaya Dongson terhadap perkembangan budaya masyarakat awalkepulauan Indonesia adalah dalam hal pembuatan barang dari logam, terutama adalahperunggu. Tradisi pembuatan barang budaya dari perunggu di Vietnam (bagian Utara) sendiridimulai pada sekitar pertengahan milenium kedua sebelum masehi. Tradisi perunggu itu sendirimenurut para arkeolog Vietnam berasal dari budaya masyarakat Dong Dau dan Go Mun.Bersama dengan wilayah Muangthai (bagian tengah dan Timur Laut) kawasan ini memiliki buktipaling awal tentang tradisi pembuatan perunggu di Asia Tenggara. Jenis-jenis barang perunggu yang mereka hasilkan antara lain kapak corong (corongmerupakan pangkal yang berongga untuk memasukkan tangkai atau pegangannya), ujungtombak, sabit, mata panah, dan benda-benda kecil lainnya seperti pisau, kail dan aneka bentukgelang. Pada tahun sekitar 300 SM, mulai muncul tradisi pembuatan nekara perunggu,penguburan orang yang memiliki status sosial tinggi, dan kehadiran benda-benda besi untukyang pertama kalinya. Tradisi-tradisi Dongson inilah yang berpengaruh besar terhadapperkembangan kebudayaan masyarakat awal kelupauan Indonesia secara umum.Banyak sekali daerah-daerah di kepulauan Indonesia darinya ditemukan benda-benada budayayang memiliki kesamaan corak dengan benda-benda atau barang tradisi Dongson. Contohnyaadalah nekara Heger tipe I. Paling tidak ada sekitar 56 nekara atau bagian-bagian dari nekarayang tersebar di pulau Jawa, Sumatra dan Maluku Selatan. Diantara contoh nekara yangpenting dari Indonesia adalah nekara “Makalamau” dari pulau Sangeang, dekat Sumbawa.Nekara “Makalamau” memiliki hiasan berupa gambar orang yang berpakaian seragammenyerupai pakaian jaman dinasti Han di Cina atau Kushan (India Utara) atau Satavahana (IndiaTengah). Nekara dari Kepulauan Kai berhiaskan gambar kijang dan adegan perburuan macan.Nekara dari pulau Selayar bergambar gajah dan burung merak. Nekara dari Bali mempunyaigambaran bentuk yang berbeda. Nekara dari Bali memiliki empat patung katak pada bagianbidang pukulnya, dengan pola-pola hiasan yang tidak terpadu berupa gambar prajurit dan motifperahu. Semua itu menunjukkan kesamaan dengan nekara-nekara yang ditemukan di Vietnam,di wilayah, dimana budaya Dongson berkembang. Tentang cara pembuatan jenis nekara itu, sejarawan Bernet Kempers memberigambaran tentang penggunaan teknik cetaknya. Awalnya lembaran lilin ditempelkan pada intitanah liat (menerupai bentuk nekara dan berfungsi sebagai cetakan bagian dalam), lalu dihiasdengan cap-cap dari tanah liat atau batu yang berhias perahu, orang dan lainna. Kemudianlembaran lilin berhias tadi ditutup dengan tanah liat yang berfungsi sebagai cetakan bagian luarsetelah terlebih dulu diberi paku-paku yang berfungsi untuk menyatukan cetakan luar dan
  • 4. dalam. Setelah itu dibakar sehingga lilinya meleleh keluar. Rongga yang ditinggalkan oleh lilinkemudian diisi dengan cairan logam. Bernet Kempers menyebutnya sebagai teknik cetak cireperdue (lilin hilang).Disamping dibawa sendiri oleh orang-orang Dongson, banyak barang-barang logam dari tradisiDongson itu yang dikirim ke Indonesia sebagai barang hadiah yang diberikan pada penguasasetempat sebagai lambang martabat raja dan kekuasaannya oleh para penguasa politik danagama di Vietnam. Akibat terjadinya pengenalan benda dan teknologi perunggu dari Dongson(Vietnam) ke wilayah kepulauan Indonesia menyebabkan di beberapa daerah kemudian munculpusat-pusat pembuatan logam.C. Budaya Logam di Indonesia1. Situs-situs Peninggalan Budaya Perunggu di IndonesiaSitus-situs peninggalan budaya perunggu di Indonesia, tersebar hampir di seluruh wilayahIndonesia. Di Sumatra bagian Selatan (daerah Bangkinang dan Kerinci) ditemukan benda-bendaperunggu berupa aneka patung dalam ukuran kecil, cincin dan gelang-gelang. Gelang-gelangtersebut kebanyakan ditemukan dalam kubur peti batu atau sarkofagus sebagai bekal kubur.Selain di Sumatra situs-situs ditemukannya peninggalan budaya perunggu di Indonesia antaralain terdapat di:• Jawa Timur (daerah Lumajang) berupa nekara tipe Heger I, pisau belati atau pisau pendekdengan mata pisau dari besi dan pegangan dari perunggu.• Jawa Tengah (daerah Gunung Kidul, dekat Wonosari) berupa kapak, pahatan, pisaubertangkai, cincin perunggu, dan manik-manik.Sama seperti penemuan di Sumatra, semua temuan benda perunggu di Jawa ditemukan di dlamkubur peti batu atau sarkofagus dan berfungsi sebagai bekal kubur bagi yang meninggal.• Jawa Barat, berupa kapak corong, cincin, mata tombak, kapak-kapak yang berkaitan denganbenda upacara (candrasa)• Sulawesi Selatan (Makasar) berupa bejana perunggu berbentuk pipih.• Bali (daerah Pacung dekat Sembiran) berupa nekara Pejeng• NTT berupa nekara bertipe Heger IDi Indonesia, diantara benda-benda perunggu yang paling menarik perhatian adalah nekara.Nekara adalah benda yang terbuat dari perunggu dengan bentuk seperti gendang (alat musiktabuh tradisional Jawa). Terdiri dari tiga bagian, yaitu bagian atas yang yang terdiri dari bidangpukul datar, bagian tengah yang berbentuk silinder dan bagian bawah atau bagian kaki yangmelebar. Sebuah nekara biasanya dihiasi dengan berbagai ornamentasi dengan pola sepertigeometrik, gambar-gambar manusia dan binatang dan berbagai ornamentasi lainnya. Dan
  • 5. diantara jenis nekara yang ditemukan, tipe Heger dan Pejeng adalah yang paling terkenal.Terdapat juga jenis nekara yang ukurannya lebih kecil, yang disebut dengan Moko atau Mako.2. Teknik Pembuatan Berbagai Benda Peninggalan Perunggu di IndonesiaPada periode tradisi pengecoran logam, besi dan perunggu kemungkinan besar dikenal dalamwaktu yang bersamaan. Pada periode ini manusia telah mampu membuat alat-alat penunjangkehidupan mereka dari perunggu. Daerah asal kebudayaan ini adalah di Indo-Cina. Masuk keIndonesia pada sekitar tahun 500 SM. Di Indonesia, benda-benda hasil peninggalan zamanperunggu diantaranya adalah nekara, jenis kapak, bejana, senjata, arca dan perhiasan. Situs-situs ditemukannya peninggalan perunggu meliputi Jawa, Bali, Selayar, Luang, Roti dan Leti.Ada dua teknik pembuatan barang-barang dari perunggu. Teknik pertama adalah yang dikenaldengan teknik setangkup atau bivalve, dan teknik kedua adalah teknik cetakan lilin (a cireperdue).Pertama, teknik bivalveTeknik cetakan ini menggunakan dua cetakan dengan bentuk sesuai benda yang diinginkanyang dapat ditangkupkan. Cetakan diberi lubang pada bagian atasnya dan dari lubang tersebutkemudian dituangkan cairan logam. Bila sudah dingin, cetakan baru dibuka.Kedua, teknik cetakan lilinTeknik cetakan lilin menggunakan bentuk bendanya yang terlebih dahulu dibuat dari lilin yangberisis tanah liat sebagai intinya. Bentuk lilin dihias menurut keperluan dengan berbagai polahias. Bentuk lilin yang sudah lengkap kemudian dibungkus dengan tanah liat. Pada bagian atasdan bawah diberi lubang. Dari lubang bagian atas kemudian dituangkan cairan perunggu dandari lubang di bawahmengalir lelehan lilin. Bila cairan perunggu yang dituang sudah dingin, cetakan dipecah untukmengambil bendanya yang sudah jadi. Cetakan seperti ini hanya dapat digunakan sekali saja.Disamping tradisi pembuatan alat-alat perunggu manusia pada periode ini sudah mampumelebur bijih-bijih besi dalam bentuk alat-alat yang sesuai dengan keinginan dan kegunaannya.Benda-benda besi yang banyak ditemukan di Indonesia antara lain berupa mata kapak,berbagai jenis pisau dalam berbagai ukuran, mata sabit yang berbentuk melingkar, tajak, matatombak, gelang-gelang besi dan sebagainya. Disamping perunggu dan besi, emas juga telahdimanfaatkan utamanya untuk membuat perhiasan dan benda-benda persembahan kubur.3. Situs-situs Peninggalan Budaya Besi di IndonesiaBerbeda dengan benda perunggu, penemuan benda besi di Indonesia sangat terbatasjumlahnya. Kebanyakan benda-benda besi ini ditemukan dalam kubur batu atau kubur langsungsebagai benda bekal kubur. Diantara situs-situs ditemukannya benda-benda besi ini antara lainadalah di Wonosari (tepatnya dalam peti kubur batu di daerah Gunung Kidul, Jawa Tengah),Besuki, Tuban, Madiun dan Pacitan (semuanya ada di Jawa Timur)

0 komentar:

Poskan Komentar

NB: Tulis saran,dan kritik mohon tidak menuliskan hal-hal yang mengandung unsur SARA, kata - kata yang provokativ (Flamming) maupun menjurus Pornografi, SPAMMING maupun Promosi dan supaya lebih bagus??????